24 April 2009

Semua Untuk Ibadah

Hidup ini adalah untuk ibadah. Setiap yang kita lakukan dan kerjakan dalam kehidupan ini memiliki nilai ibadah, karena Allah SWT menciptakan kita semata-mtata untuk beribadah kepadanya. Namun sayangnya hal ini kurang disadari oleh sebagian besar manusia. Orang yang hidup dalam kekurangan beralasan bagaimana iadapat beribadah sementara kehidupannya serba sulit. Namun setelah berharta, ia lupa untuk beribadah kepada Allah SWT.


Namun hal ini tidak berlaku bagi Pak Sukardi. Meskipun kehidupannya masih serba kekurangan, namun niat hatinya untuk terus beribadah kepada Allah SWT tidak pernah kendur. Kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga diniatkannya sebagai salah satu ibadah di jalan Allah SWT.


Pak Sukardi bukanlah orang yang berharta. Pekerjaan sehari-hari yang ditekuninya adalah sebagai tukang ojek sepeda. Setiap hari ia menunggu penumpang di perempatan Rawa Badak, Tanjung Priuk. Seperti yang dilakukannya sore itu, saat banyak karyawan mulai pulang dari kantornya masing-masing, ia masih setia menunggu penumpang.


Sebelum menjadi pengojek sepeda, Pak Sukardi pernah bekerja pada sebuah pabrik kaca milik investor dari Jepang di daerah Pulo Gadung, Jakarta. Namun ia kemudian di PHK karena pernah absen lama karena sakit. Perusahaan tempatnya bekerja tak mau menanggung biaya kesehatan, dan tentusaja tidak mau rugi, sehingga mengambil keputusan tersebut.


Pak Sukardi siap menerima kenyataan ini, karena keyakinannya telah tertempa oleh nilai Islam yang diyakininya. "Saya yakin, rejeki mah Allah yang ngatur ..." Berangkat dari keyakinan yang tulus itu, serta menyadari keterbatasannya yang tidak lulus sekolah dasar, ia banting stir ke usaha yang tak pernah ia impikan sebelumnya: menjadi pengojek sepeda! Keyakinan dan usaha itu memang membuahkan hasilnya, "Setiap hari paling sedikit saya bisa mengantongi tujuh ribu perak. Alhamdulillah, bisa untuk makan dan membiayai anak-anak ..." Ia mempunyai empat orang anak. Yang paling besar di SLTA, dua orang di SLTP, yang paling kecil masih di SD. "Sekarang ini, kalau kita nggak kuat mendidik anak dengan agama, gawat! Banyak sekali gangguannya. Kita sering dengar ada anak gadis hamil duluan sbelum nikah. Nauzu billah min zalik! Itu kesalahan orang tuanya yang tidak mendidik dengan pelajaran agama."


Kiranya Pak Sukardi benar, arus kejahiliyahan memang tengah merayap di sela-sela kehidupan kita. Arus itu melilit dan meracuni semua lapisan sosial dengan segala perwujudannya. Tidak hanya meracuni si kaya, tapi juga si miskin. Pak Sukardi tak ingin terlindas arus itu. "Saya tanamkan Islam pada anak-anak melalui pengajian dan halaqoh di Masjid, dan saya "ngasih" contoh pada mereka. Misalnya kalau sholat subuh, kita bangunkan mereka, kita ajak ke masjid ..."


“Habis, kita hidup ini buat apa sih kalau bukan untuk ibadah? Bekerja ibadah, belajar ibadah, pokoknya semua lah. Untuk apa hidup di dunia ini kalau cumin bergelimang harta tanpa tujuan yang jelas? Dan kekurangan materi bukan halanga untuk memilih tujuan hidup yang benar dan pasti”, lanjutnya


Keyakinan itulah yang agaknya terpatri kuat dalam jiwa tukang ojek kita ini. Maka ketika suara adzan memanggil, ia tak menyia-nyiakan waktu untuk tetap berada dalam tujuan utama hidupnya. Ia bergegas pulang ke rumah menunaikan kewajibannya di masjid dekat rumahnya. "Kalau ngedenger azan terus kita belum sholat, rasanya nggak enak, kayak punya utang saja. Hati gelisah, pengennya mau pulang melulu ... padahal lagi ada penumpang."


Pak Sukardi sudah menganggap ibadah sebagai kebutuhan. Ia merasa punya beban jika kewajiban terhadap Allah belum ditunaikan. Tidak hanya itu saja, ia bahkan berusaha mendirikan kewajiban tersebut dengan cara yang terbaik. "Pernah ada teman saya yang ‘ngetawain’ dan ngejek saya, karena saya pakai payung waktu ‘narik’ di siang bolong. Waktu itu bulan Ramadhan. Saya diamkan saja. Habis, dari pada saya batal puasa karena kepanasan?" ceritanya tentang pengalamannya menarik ojek di bulan suci Ramadhan. "Saya menyayangkan teman-teman saya yang tidak puasa di bulan Ramadhan. Padahal kita bisa ngatur waktu untuk menjaga dan mempertahankan puasa kita. Misalnya kalau narik di bulan Ramadhan, sebaiknya dari pagi sampai sekitar jam sebelasan lah, jangan lebih. Habis itu kita pulang, sholat Dzuhur, tidur di rumah sampai Ashar. Habis Ashar kita bisa narik lagi sampai malem. Itu 'kan nggak terlalu menguras tenaga. Kita bisa tetap puasa, udah gitu dapet rejeki lagi. Alhamdulillah, selama saya narik ojek ini, saya nggak pernah ‘bolong’ puasa, bukannya nyombong nih!"


Pernah suatu hari ia mendapat penumpang, dan sudah menjadi kebiasannya, ia selalu mengajak ngobrol orang yang memerlukan jasanya. Pembicaraan berkisar pada soal hujan yang sudah lama tidak turun, entah bagaimana tiba-tiba orang itu mengatakan bahwa berkat kecanggihan teknologi sekarang, hujan sudah bisa dibuat. Pernyataan ini langsung disergah oleh Pak Sukardi. "Hujan mah, biar gimana, buatan Allah, Pak! Manusia nggak bisa bikin hujan. Kita jangan sombong dengan ilmu pengetahuan kita, sebab kalau dibandingkan dengan ilmunya Allah, ilmu kita mah nggak ada arti nya. Kita manusia cuma bisa berusaha, Allah yang menentukan. Kita aja yang ngaku-ngaku bisa bikin hujan buatan, padahal semuanya dari Allah."


Hari-hari pak Sukardi adalah sepeda dan da'wah, keringat dan ibadah. Sebuah fenomena menyejukkan yang dapat kita saksi kan di tengah semakin parahnya budaya jahilliyah merasuki sendi-sendi kehidupan kita. Semoga kita dapat menjadikannya teladan dalam menyikapi kehisupan ini. Amin


Wallahu a’lam


sumber: syahadat.com

Tetangga, Satu Pintu Syurga

Dalam kehidupan bermasyarakat, kitatidak akan lepas dari yang namanya tetangga. Tetangga adalah saudara terdekat yang kita miliki. Siapa yang pertama kali kita minta tolong saat sedang kesusahan jika bukan tetangga? Karena itulah, tetangga memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan kita.


Sayangnya, banyak dari kita yang memperlakukan tetangga dengan tidak semestinya. Terlebih lagi jika kita memiliki rasa tidak suka kepada tetangga tersebut. Secara tidak langsung, kita telah menanam bibit permusuhan, yang kemungkinan besar dapat menjadi konflik yang meruntuhkan ukhuwah islamiyah.


Sikap memandang rendah dan permusuhan seperti ini jelas-jelas tidak sesuai dengan ajaran islam. Islam menempatkan tetangga sebagai bagian yang penting. Bahkan sikap kita kepada tetangga pun dapat menjadi lading amal kita untuk meraih syurga Allah SWT, Insya Allah. Karenanya, dalam islam diajarkan dengan jelas bagaimana kita harus bersikap kepada tetangga kita, apa dan siapapun mereka.


Dalil Hidup Bertetangga


Banyak sekali dalil yang dapat kita temukan tentang hidup bertetangga. Dalil-dalil tersebut mengajarka kepada kita bagaimana kita harus bersikap kepada tetangga kita, baik itu tetangga dekat maupun tetangga jauh sekalipun. Jika kita mampu dan mau bersikap kepada tetangga kita seperti ajaran islam yang terkandung dalam dalil-dalil ini, maka ukhuwah islamiyah akan terjalin dengan kuat, dan hidup kita pun akan semakin bermakna.



Dalil-dalil yang membahas tentang hidup bertetangga diantaranya adalah:


وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa’: 36)


Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tetangga ada tiga macam: tetangga yang memiliki satu hak –dan ia adalah tetangga yang paling dekat–, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak –dan ini adalah tetangga yang paling utama–. Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik tidak ada rahmat baginya; ia hanya memiliki hak sebagai tetangga. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang memiliki rahmat; ia memiliki hak sebagai tetangga, hak Islam, dan hak silaturrahim.” (Al-Bazzar, Abu Na’im dalam kitab Al-Hilyah)


Saking seringnya Jibril berwasiat tentang tetangga dan menjelaskan hak-hak mereka, Rasulullah saw. sampai-sampai mengira Jibril akan berkata, “Sebagian dari hak-hak mereka adalah mewariskan hartanya setelah kematiannya, seperti kepada kerabatnya.” (Bukhari, hadits nomor 5555)


dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Muslim, hadits nomor 66)


Abu Hurairah r.a. berkata, seseorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa dan sedekahnya yang sangat banyak, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. berkata, “Wanita itu di neraka.” Lelaki itu berkata lagi, “Sesungguhnya si fulanah sering disebut karena shalat, puasa, dan sedekahnya yang sangat sedikit, ia bersedekah dengan sepotong keju serta tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu di surga.” (Ahmad, hadits nomor 9298, dan Al-Hakim)


Masih dari Abu Hurairah r.a., “Seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw. mengeluhkan tetangganya. Beliau berkata, ‘Pulang dan bersabarlah!’ Untuk kedua dan ketiga kalinya orang itu datang lagi. Beliau kemudian berkata, ‘Pulang dan letakkan barang-barangmu di tengah jalan.’ Ia kemudian kembali pulang dan meletakkan barang-barangnya di jalan, sehingga orang-orang yang menyaksikannya bertanya kepadanya, ia pun membeberkan masalahnya. Mengetahui hal tersebut, orang-orang justru melaknat tetangganya yang jahat itu dengan mengatakan, ‘Semoga Allah memperlakukannya demikina dan demikian.’ Tetangganya kemudian datang kepadanya dan berkata, ‘Pulanglah ke rumahmu, engkau tidak akan melihat sesuatu yang engkau benci dariku.’” (Abu Dawud, hadits nomor 4468).


Masih banyak lagi dalil-dalil yang dapat kita temukan mengenai hidup bertetangga ini. Karenanya, marilah kita terus berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan tetangga kita, sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw.



Hak Tetangga


Dalam hidup bermasyarakat, setiap anggaota masyarakat memiliki haknya masing-masing. Demikian juga halnya dengan tetangga kita. Mereka memiliki hak yang berasal dari diri kita. Lantas apa saja hak-hak tetangga dari kita menurut islam? Kita dapat mengetahuinya dengan menyimak sabda Rasulullah saw berikut ini:


“Apabila ia meminta pinjaman kepadamu, engkau meminjamkan. Bila ia meminta meminta pertolongan kepadamu, engkau menolongnya. Bila ia membutuhkan sesuatu, engkau memberikannya. Apabila ia ditimpa kemiskinan, engkau membantunya. Bila mendapatkan kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya. Bila menerima cobaan, engkau menghiburnya. Dan bila ia meninggal, engkau mengiringi jenazahnya.


Jangan tinggikan tembok rumahmu sehingga angin terhalang untuknya selain dengan seizinnya. Jangan sakiti ia dengan aroma masakanmu kecuali engkau berikan sebagian darinya. Bila engkau membeli buah, maka hadiahkanlah pula untuknya. Bila engkau tak mampu melakukannya, maka curahkanlah kegembiraan dalam dadanya. Jangan keluarkan anakmu untuk menciptakan kemarahan dalam diri anak-anaknya.” (At-Tabrani mengatakan ini ucapan Mu’adz bin Jabal, tapi para ulama berkata ini hadits marfu’ yang sanadnya lemah tapi maknanya shahih).


Karena itu, kualitas hubungan kita dengan tetangga adalah cermin diri kita. Jika hubungan dengan tetangga buruk, kita buruk. Jika baik, kita baik. Hal ini pernah ditanyakan Abdullah bin Mas’ud kepada Rasululllah saw. “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat buruk?” Rasulullah saw. menjawab, “Apabila engkau mendengar tetanggamu mengatakan bahwa engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik. Dan apabila engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat jahat, maka engkau telah berbuat jahat.” (Ibnu Majah, hadits nomor 4213).



Memuliakan Tetangga


Sebagai umat muslim, kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada sesame makhluk. Terlebih lagi kepada tetangga kita. Karena merekalah orang yang paling dekat dengan kita, saudara terdekat kita. Dengan berbuat baik kepada mereka, setidaknya kita telah menabung amal sebagai bekal di akhirat kelak.


Lantas, agaimanakah cara kita berbuat baik kepada tetanggaa kita? Islam telah mengajarkan caranya. Memuliakan teangga merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan. hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah saw berikut:


Ibnu Umar dan Aisyah r.a. berkata, Nabi saw. bersabda, “Jibril selalu menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang muslim.” (Bukhari dan Muslim)


Abu Dzarr r.a. berkata, bersabda Rasulullah saw., “Hai Abu Dzarr, jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan perhatikan (bagilah tetanggamu).” (Muslim)


Abu Hurairah berkata, bersabda Nabi saw., “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman.” Ditanya, “Siapa, ya Rasulullah?” Jawab Nabi, “Orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” (Bukhari dan Muslim)


Abu Hurairah berkata, bersabda Nabi saw. “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah memuliakan tetangganya.” (Bukhari dan Muslim)


Nabi saw juga bersabda, “Orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya lapar, bukanlah umatku.”


Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk memuliakan tetangga kita. Beberapa cara untuk memuliakan tetangga diantaranya adalah:


  • Mengucapkan salam ketika bertemu.
Rasulullah saw. yaitu, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian”. (H.R. Bukhari-Muslim)
  • Menjenguk Ketika Sakit
Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jenguklah orang yang sakit; beri makanlah orang yang lapar dan lepaskanlah orang yang dipenjara”.Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.
  • Mendoakan Ketika Bersin
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan saudaranya atau temannya hendaknya mengucapkan untuknya, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu)’ Apabila teman atau saudaranya tersebut mengatakan, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), kepadanya, maka hendaklah ia mengucapkan, Yahdikumullah wa yushlihu balakum.
  • Menziarahi karena Allah
Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit atau berziarah kepada seorang saudara di jalan Allah, maka ia akan diseru oleh seorang penyeru “Hendaklah engkau berbuat baik, dan baiklah perjalananmu, (karenanya) engkau akan menempati suatu tempat di surga”.
  • Menolong ketika kesempitan
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat zhalim kepadanya dan tidak boleh menyia-nyiakannya (membiarkan, tidak menolongnya). Barang siapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan menolong kebutuhannya, barang siapa menyingkirkan suatu kesusahan dari seorang muslim, niscaya Allah akan menyingkirkan darinya suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat”
  • Memenuhi undangannya apabila ia mengundang
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra , bahwa Rasulullah saw. bersabda; Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”
  • Memberikan ucapan selamat
Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Barang siapa bertemu saudaranya ketika bubar dari shalat Jum’at, maka hendaklah ia mengucapkan “Semoga (Allah) menerima (amal dan doa) kami dan kamu.
  • Saling memberi hadiah
At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”
Ad-Dailami meriwayatkan dari Anas secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian-kedengkian”
Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’ meriwayatkan, “Saling bermaaf-maafkanlah, niscaya kedengkian akan hilang. Dan saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan.”

Wasiat Rasulullah tentang Tetangga


Sebagai tambahan, berikut ini kami rangkumkan wasiat yang diberikan oleh Rasulullah saw dalam bertetangga.


  • Dosa Orang Yang Tetangganya Tidak Aman Dari Gangguannya

عَنْ أبي شُرَيْحٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ: وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قالَ: الَّذِي لا يَأمَنُ جَارُهُ بَوَائِقُهُ. رواه البخاري

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman. Ada yang bertanya: Siapa itu Ya Rasulullah? Jawab Nabi: Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya. (H.R Bukhari)
  • Larangan Meremehkan Hadiah Dari Tetangga
عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:
يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Haurairah ra berkata: Nabi Muhammad saw pernah bersabda: Wahai para wanita muslimah, janganlah ada seorang tetangga yag meremehkan hadiah tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing. (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Barang Siapa Beriman Kepada Allah Dan Hari Akhir Maka Jangan Menyakiti Tetangga

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت. رواه البخاري ومسلم وابن ماجه

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. (HR AL Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
  • Hak Tetangga Yang Lebih Dekat Pintunya

عن عائشة رضي الله عنها قالت: يا رسول الله إن لي جارين فإلى أيهما أُهدي؟ قال: إلى أقربهما منك باباً. رواه البخاري

Dari Aisyah ra berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, kepada tetangga yang manakah aku berikan hadiah? Jawab Nabi: Kepada tetangga yang pintu rumahnya lebih dekat denganmu. (H.R. Bukhari)

Semogat tulisan ini dapat meningkatkan ukhuwah islamiyah yang kita jalin dengan masyrakat di sekitar kita. AMIN


Wallahu a’lam



sumber: www.syahadat.com